November 30, 2009

Indonesia di persimpangan jalan -Artikel tentang prospektif energy Indonesia-

Posted in Alternative Energy tagged , , , , , , at 14:53 by Teman Pembelajar

Merah Putih berkibarlah !

Indonesia di persimpangan jalan:

1. Prospektive batubara sebagai energi pengganti
Produk batubara kita cukup menjanjikan. Banyak opini mengatakan cadangan batubara kita cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai pengganti
bahan bakar fossil minyak bumi maupun untuk kebutuhan export. Di sisi lain deposit Brown (batubara muda) coal Indonesia juga sangat besar, diprediksi
bisa memenuhi kebutuhan sampai 130 tahun ke depan. Pertanyaan di sini adalah apakah kita mampu mengolah batubara tersebut menjadi satu bahan bakar andalan
kita di masa depan. Kegiatan yang dilakukan oleh industriawan2 di bidang ini tidak lain hanyalah terbatas pada penjualan/export batubara (crude coal)
dengan harga yang relativ murah. Banyak nilai tambah/added value yang bisa dilakukan/tepatnya sedang diupayakan negara2 industri dengan berbagai teknology conversi
untuk memproduksi bahan bakar lebih murni, lebih bersih dan lebih mempunyai nilai tambah (value added) bila dijual.
Sebut saja teknology : coal gasification, Coal Liquefaction. Memang dalam hal ini ada nilai investasi pengembangan yang harus dibayar.

2. Urutan era berdasarkan alphabet BBM terus BBN?

Kandidate terbesar dari BahanBakarNabati adalah dari CPO atau Jatropha.
(di Indonesia lebih dikenal dengan tanaman Jarak). Performance CPO dalam produksi Biodiesel cukup menjanjikan
setidaknya ada bbrp. pengusaha/aktivis bisnis di bidang plantasi CPO memulai merambahkan bisnisnya dengan investasi dibidang pembuatan Biodiesel
berbahan baku ini. Kekhawatiran di bidang lain pengembangan energi di sektor ini akan mengganggu kestabilan industri
pangan. Melihat jatropha sebagai alternative yang cukup baik terbukti dengan pengembangan plantasi tanaman jarak
dengan lahan perkebunan Jarak sekitar 54.000 hektar berlokasi di Tenggarong (daerah sekitar Samarinda Kalimantan Timur)
memang cukup menggembirakan. Hanya saja pertanyaam besar: apakah langkah ini merupakan langkah yang prospektiv
dilihat dari kebutuhan/demand yang sangat besar akan biofuel sementara pengembangan sektor ini belum cukup
ditanggapi oleh kalangan industri dan dukungan pemerintah apakah bisa fokus, consisten berkesinambungan dan sistematis.
Bilang saja 3 perusahaan yang sudah melirik bidang ini:

PT Bioenergi Nusantara
PT Kreative Energi Indonesia
PT Nusantara Biofuel

dari ketiganya barulah PT Nusantara Biofuel yang mampu menghasilkan cukup besar dengan cap. 100.000t/a kendati
dengan technology transfer dari Italia yang sudah dilakukan. Sementara action PERTAMINA yang mengontrak Biosolar dengan 400.000 KL/a sj sudah dapat menggoyahkan supply Biosolar di tingkat peng-ecer SPBU dengan B1. Produk yang tadinya berkandungan biosolar 5% menjadi tinggal 1 % di tahun 2006 y.l. Sayangnya kita masih belum bisa berbangga dengan pencapaian kita di bidang energi alternative, belum lagi jika berbicara soal supply export untuk negara2 lain. Indonesia masih jauh untuk ke arah sana.

Tetapi bila melihat dan memprediksi bahwa kita (negara2 berkembang) dalam waktu mendatang harus membeli salah satu teknology energi ini dari negara2 maju, apakah lebih baik kita mulai menekuni bidang ini untuk dapat ikut menentukan policy energy di masa depan. Mungkin Indonesia berada di persimpangan jalan untuk bisa menentukan ke arah mana langkah akan kita tempuh. Jika terus hanya mengandalkan solusi jangka pendek, kita tidak mungkin bisa menciptakan ketahanan sektor2 vital negara kita. Jika hanya berpaku pada penjualan (trading activity) dari hasil komoditi sumber daya alam Indonesia secara direct/langsung tanpa bisa mengolahnya,
kita akan semakin terpuruk di masa mendatang. Ruang gerak kita di dunia internasional juga akan semakin sempit untuk mengadakan negosiasi2 yang bisa menguntungkan bagi negara ini. Satu hal yang cukup menggembirakan adalah: Indonesia di lain sisi belum terperangkap dengan investasi2 besar di bidang pengembangan teknologi energy.
Bagi negara2 industry yang sudah melakukan langkah investasi2 ini puluhan tahun y.l, sulit bagi mereka untuk mengkonversikan kepada teknology yang baru.
Realita ini yang mungkin bisa kita lihat, bhw, Indonesia berada pada persimpangan jalan dalam menentukan langkah strategi energi dalam negeri. Diharapkan strategi energi kita tepat, sistematis, sinergis dan berkesinambungan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: